http://Rajawali Timestv. Com, TANGERANG SELATAN – Kelurahan Parigi Baru terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan sebagai tindak lanjut hasil rapat bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan pada Jumat lalu.
Arahan langsung dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangsel menegaskan bahwa setiap kelurahan wajib memiliki fasilitas pengelolaan sampah dari hulu, termasuk teba sampah organik, serta mendorong pembentukan minimal satu bank sampah di setiap RW.
Lurah Parigi Baru, Ade Helmi Firmansyah, SE, menyampaikan bahwa saat ini Kelurahan Parigi Baru telah memiliki tujuh bank sampah aktif yang masih berjalan dengan baik. Upaya penguatan pun terus dilakukan agar cakupan partisipasi masyarakat semakin luas.
“Alhamdulillah, di Parigi Baru sudah ada tujuh bank sampah yang aktif. Namun kami tidak berhenti di situ. Pada Senin kemarin saya langsung menggelar rapat dengan seluruh ketua RW untuk menindaklanjuti arahan pimpinan daerah,” ujar Ade Helmi.
Dalam rapat tersebut, disepakati bahwa selain mempertahankan bank sampah yang sudah berjalan, Kelurahan Parigi Baru akan membentuk kembali bank sampah yang dikomandoi langsung oleh ketua RW. Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan utama pengelolaan sampah, yakni masih minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah dan menjadi nasabah bank sampah.
“Bank sampah ini memang tantangannya di edukasi. Masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah dari rumah. Karena itu, kami sepakati pembentukan bank sampah baru yang lebih dekat ke warga, agar penimbangan tidak terlalu jauh dan partisipasi meningkat,” jelasnya.
Rencananya, struktur kepengurusan bank sampah tingkat RW akan disampaikan pada Rabu, dan langsung ditetapkan melalui Surat Keputusan Kelurahan. Target besar yang dicanangkan adalah minimal 80 persen warga di setiap RT menjadi nasabah bank sampah.
Sebagai bentuk keteladanan, Kelurahan Parigi Baru juga memulai pengelolaan sampah dari lingkungan internal pemerintahan. “Kami mulai dari rumah lurah, rumah para ketua RT dan RW. Semua dibuatkan biopori. Kalau polanya sudah dibiasakan dan disiplin, insyaallah bisa menular ke masyarakat,” kata Ade Helmi.
Kelurahan juga tengah menyiapkan tim khusus yang melibatkan RT dan RW untuk melakukan edukasi door to door kepada warga. Upaya ini dinilai penting karena perubahan pola pikir masyarakat membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan.
Ade Helmi menambahkan, bank sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Ia mencontohkan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, hasil tabungan sampah warga bisa mencapai jutaan rupiah dalam setahun.
“Banyak warga yang mengambil tabungan bank sampah menjelang Lebaran. Ada yang bisa dapat satu juta rupiah lebih dalam setahun, itu dari sampah rumah tangga. Ini yang terus kami sampaikan ke warga, bahwa sampah itu punya nilai,” ungkapnya.
Untuk fasilitas Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Parigi Baru, saat ini terdapat satu TPS yang masih aktif dan dikelola oleh warga setempat. Ke depan, penambahan TPS belum direncanakan karena keterbatasan lahan dan ketentuan aset.
Melalui kolaborasi antara kelurahan, RT, RW, dan masyarakat, Kelurahan Parigi Baru optimistis pengelolaan sampah berbasis lingkungan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Chrdn












