http://Rajawali Times Tv. Com, Tangerang Selatan – Pemerintah Kelurahan Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, resmi menghadirkan fasilitas TEBA Komposter modern sebagai upaya mendukung program pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Fasilitas ini diharapkan menjadi solusi nyata dalam mengurangi sampah organik sejak dari tingkat kelurahan.
Lurah Jurang Mangu Timur, H. Ahmad Gozali, menyampaikan rasa syukur atas terealisasinya program tersebut. Ia menjelaskan bahwa TEBA Komposter telah siap digunakan dengan konsep modern dan multifungsi yang ramah bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, lubang TEBA modern di Kelurahan Jurang Mangu Timur sudah siap. Semoga keberadaannya dapat memberikan manfaat ganda bagi warga,” ujar Gozali, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, selain berfungsi sebagai sarana pengolahan sampah organik, area TEBA Komposter juga dirancang sebagai ruang interaksi sosial warga. Masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai tempat berkumpul, bersantai, hingga berdiskusi sambil tetap berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Konsepnya bukan hanya pengolahan sampah, tapi juga ruang kebersamaan. Warga bisa nongkrong, ngopi, sekaligus belajar dan berperan aktif dalam pengelolaan sampah organik,” tambahnya.
Program TEBA Komposter ini merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk menekan volume sampah rumah tangga yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan pengolahan sampah dari sumbernya, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan semakin meningkat.
Selain itu, Pemerintah Kelurahan Jurang Mangu Timur juga terus mendorong program pembuatan lubang biopori sebagai langkah pengelolaan lingkungan dan pencegahan genangan air. Program ini direncanakan menjangkau 93 RT dan 13 RW di wilayah tersebut.
Ahmad Gozali menjelaskan bahwa setiap RT direncanakan mendapatkan sekitar 50 lubang biopori. Namun, pembuatan secara manual menggunakan alat sederhana seperti linggis membutuhkan tenaga besar, sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
“Kalau satu RT sekitar 50 lubang itu cukup berat jika dikerjakan manual. Karena itu, kita lakukan bertahap,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, kelurahan akan melakukan percontohan pembuatan biopori di lingkungan kelurahan dengan melibatkan RT dan RW setempat sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.
“Untuk tahap pertama, kita kasih contoh dulu di kelurahan bersama RT dan RW. Setelah itu baru diterapkan ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk pelaksanaan secara masif di lingkungan warga, program biopori akan masuk dalam skema pembangunan berskala besar, sambil menunggu pengadaan peralatan yang saat ini sedang dianggarkan pada perubahan anggaran tahun berjalan.
“Targetnya, di Kelurahan Jurang Mangu Timur akan dibuat sekitar 4.000 lubang biopori,” ungkapnya.
Program biopori ini diharapkan memberikan manfaat ganda, mulai dari meningkatkan daya resap air tanah, mengurangi potensi banjir, hingga mendukung pengelolaan sampah organik di lingkungan warga.
Pemerintah kelurahan juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif demi keberlanjutan program.
Dengan hadirnya TEBA Komposter modern dan program biopori ini, Kelurahan Jurang Mangu Timur diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam penerapan pengelolaan sampah dan lingkungan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Chrdn












