http://Rajawali Times Tv. Com, Banjarnegara – Komunitas Perempuan berkebaya Bunda Milenial Banjarnegara dalam acara Banjarnegara Culture Carnival 2026, peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-455, cukup mencuri perhatian dari semua peserta kirab maupun para warga Banjarnegara yang menyaksikan acar kirab.
Komunitas Perempuan berkebaya ini dalam mengikuti kirab dengan membawa Piagam Rekor MURI Dunia.yang diperolehnya denga Mengangkat tema “Ayuning Budaya Guyubing Wanita”
Kehadiran komunitas wanita berkebaya pada kirab ini memang sangat menonjolkan rasa semangat kebersamaan kaum perempuan dalam melestarikan budaya lokal.
Kirab budaya yang berlangsung meriah pada Kamis (2/4/2026) yang dimulai dari Terminal Bus, menyusuri Jalan Protokol, hingga finish di Alun-Alun Kota,Banjarnegara yang diikuti 82 kelompok dari berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun kelompok komunitas yang ada di Banjarnegara
Piagam MURI merupakan penghargaan atas rekor dunia yang diraih Bunda Milenial pada Juli 2025, dalam rangka Hari Anak dan Hari Kebaya.
Prestasi ini lahir dari gagasan “Kaulinan” dan permainan tradisional dengan kebaya yang diikuti sekitar 12 ribu peserta.
“Piagam MURI ini menjadi simbol kebanggaan dan motivasi komunitas Bunda Milenial untuk terus berkarya, menginspirasi masyarakat,” kata salah satu anggota komunitas.
Namun ironisnya dibalik kemeriahan, Bunda Milenial Banjarnegara secara tegas menyuarakan kritik yang sangat tajam terhadap pihak panitia dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.yang diduga tidak manusiawi
Mereka menyoroti absennya fasilitas dasar diantaranya fasilitas konsumsi makanan dan minuman bagi seluruh peserta kirab, “Kami selaku warga Banjarnegara berharap agar ada evaluasi lebih baik ke depan.dan ini adalah suatu contoh bahwa kepanitiaan acara ini pantas kami bilang tidak manusiawi.
Mengapa demikian karena peserta adalah kunci dari kesuksesan acara ini, namun kebutuhan dasar mereka selaku peserta kirab sangat diabaikan,”
ada apa ini, mengapa ini bisa terjadi, dan ini harus ditelusuri, hal semacam ini tidak bisa dibiarkan. “tegas Ketua Bunda Milenial Banjarnegara.
Masih disekitaran lokasi acara kirab
Hal senada juga bergema dari tokoh budayawan. Yepi Teguh dari Yayasan Telasih Banjarnegara “Masalah konsumsi bagi peserta itu harus diperhatikan. Jangan sampai peserta kehausan.apabila seperti ini maka kami anggap Pihak Panitia tidak profesional dan tidak manusiawi. Tegas Yepi
Selanjutnya Sekretaris Telasih, KRT Pujono, juga menambahkan kritik tajam perihal komunikasi:
“Akibat kurangnya koordinasi antara panitia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan komunitas budaya akhirnya membuat banyak orang dan peserta yang sangat kecewa termasuk Yayasan Telasih 87.juga sangat kecewa, atas kinerja semua pelaksana. Ungkapnya.
Ki Warsono, tokoh budayawan lainnya juga sangat menyayangkan minimnya sarana prasarana dan akomodasi bagi peserta
“Semoga ke depan peserta kirab diperhatikan konsumsinya, meski beberapa tim sudah bawa sendiri,” ujarnya
Komunitas juga menyinggung kebijakan panitia yang diduga memprioritaskan anggaran besar untuk artis luar kota, ketimbang kesejahteraan peserta lokal.
Penyampaian ini menuntut penyelenggaraan acara budaya lebih inklusif, berkeadilan, dan apresiatif terhadap kontributor utama.
Tentang Bunda Milenial Banjarnegara Komunitas perempuan ini aktif di bidang sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat, dengan semangat kolaborasi dan inovasi.
Hingga berita ini diterbitkan. Belum ada keterangan secara resmi dari panitia yang diduga mengabaikan segala fasilitas peserta,dan awak media terus akan menelusuri apa sebenarnya yang terjadi dibalik kepanitiaan.kirab peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-455, (2/3/2026) Diharapkan Bupati memanggil Pihak Panitia yang mengakibatkan banyak peserta yang merasa kecewa.
Red MT Jana












